Rabu, 09 Februari 2022

Bagaimana memilih kontraktor kolam renang yang tepat ?

Bagaimana memilih kontraktor kolam renang yang tepat ?


Ketika terlintas difikiran kita mengenai istilah kolam renang , maka difikiran kita tergambaran sesuatu yg menyenangkan. Air yg segar menggunakan segala kejernihan airnya berakibat kita ingin segera berenang , main seluncuran ataupun olahraga lainnya. 

Kolam renang acap kalikali berada pada loka loka public misalnya pada hotel ataupun loka wisata. Tak hanya pada loka publik , kolam renang pula acapkali berada pada loka private misalnya tempat tinggal   ataupun pool private buat kalangan high class. 

Pemilihan kontraktor kolam renang sangat berpengaruh pada pemilihan contoh kolam renang. Didalammya kontraktor akan menerima menaruh mindset atau memberikan sudut pandang pada owner mengenai variasi kolam renang yg rupawan. 

 Banyak pilihan kolam renang yg akan ditawarkan misalnya menggunakan melengkapi kolam renang tadi menggunakan seluncuran, ember tumpah , kolam ombak & lain lainnya. Ini dimaksudkan buat membantu owner menerima pengalaman menarik gunan menerima pengunjung yg poly pula. 

 Aspek paling aman menjadi penunjang primer pada pemilihan kontraktor kolam renang

 Seperti kebanyakan pada Indonesia poly kolam renang yg nir menaruh pengalaman menarik pada para pengunjung , tentu saja ini ditimbulkan lantaran mereka keliru menentukan kontraktor kolam renang yg representaif. Selain lantaran kurangnya pengunjung yg menyukai kolam renang tadi yg tentu saja akan menciptakan pengunjung enggang buat kembali  lagi pula akan berdampak dalam paling aman pengunjung. 

 Aspek paling aman pengunjung ini sebagai sesuatu yg vital . Kenapa ?lantaran ini akan sebagai parameter kolam renang tadi rupawan untuk pengunjung atau nir. Keamanan pengunjung , atau anak anak akan sangat berpengaruh pada pengunjung , sebut saja mengenai pemilihan ubin yg sahih & layak, mengenai ketinggian atau kedalaman kolam. 

Oleh lantaran ini menyangkut nyawa maka asfek paling aman inilah yg kudu atau wajib untuk diperhatikan waktu menciptakan kolam renang. Selain paling aman ya tentu saja desain & fasilitas lain yg menunjang kepuasan pengunjung. 

 Demikian artikel tentang aspek paling aman menjadi penunjang primer pada pemilihan kontraktor kolam renang yg baik. Smoga artikel ini memberi sudut pandang yg baru untuk para pembaca . Terima kasih 


Rabu, 26 Januari 2022

Pulang Dugem Lihat Ayah Salat Tahajud, Artis Ini Mualaf, Kini Penampilannya Berubah Drastis

Soraya Larasati merupakan salah satu artis mualaf  di Indonesia. Artis cantik yang hobi olahraga lari ini memiliki kisah yang inspiratif sebelum memeluk agama Islam. Bahkan setelah mualaf, Soraya mengubah penampilannya dengan mengenakan hijab.


Soraya menjadi mualaf pada tahun 2012 lalu. Dalam keluarga ia dibesarkan dalam suasana toleransi yang begitu kental. Saat masih muda dulu, Soraya senang menghabiskan waktu di malam hari dengan mendatangi tempat hiburan malam.



Ternyata cara Soraya mendatangi tempat hiburan malam untuk bersenang-senang bersama teman-temannya bukan tanpa alasan. “Pada saat itu saya berpikir kalau saya harus eksis, biar dilihat produser, waktu itu suka banget party (pesta-red) hampir keluar malam tiap hari,” kenang Soraya dilansir dari YouTube Trans TV Official.


 

Kebiasaan Soraya ternyata membuat sang ayah kecewa. Ia sedih selalu melihat putrinya tidak ada di rumah pada malam hari, bukan syuting atau bekerja malah senang-senang di tempat hiburan malam. 


Semua orangtua termasuk ayah Soraya pasti khawatir dengan pergaulan Soraya yang akrab dengan dunia malam. “Ayah saya sering menelepon, nanya kapan saya pulang? Tapi saya tetap pulang pagi,” ungkapnya.



 

Ayah Soraya selalu menunggu putrinya pulang ke rumah meskipun harus sampai dini hari. Sambil menunggu, sang ayah melakukan salat tahajud untuk mendoakan putrinya agar berubah dan menjauhi kehidupan malam. Soraya sendiri pernah melihat langsung ketika tiba di rumah sang ayah sedang salat tahajud mendoakannya. 

Selasa, 25 Januari 2022

Bill Gates, Indian Government Targeted in Lawsuit Alleging AstraZeneca Vaccine Killed 23-Year-Old

 In what may be the first sah case of its kind globally, a petitioner in India is seeking to prosecute Bill Gates, Indian vaccine czar Adar Poonawalla, and Indian government and public health officials over the death of a 23-year-old man who died after receiving AstraZeneca`s Covishield vaccine. 

 Kiran Yadav late last year filed a criminal writ petition for murder, Smt. Kiran Yadav v. The State of Maharashtra & Ors. (herein referred to as Yadav v. Maharashtra), with the Bombay High Court of Judicature, on behalf of her deceased son, Shri Hitesh Kadve. 



 Her son was vaccinated on Sept. 29, 2021. According to the complaint, he died that same day due to side effects brought on by the vaccine. 

 The complaint alleges Kadve died “due to [an] act of willful commission and omission attributable to some public servants who are misusing their position to bring policies to help the pharma mafia and thereby [are] responsible [for] mass murders.” 

 The complaint further states Yadav`s son was “unwillingly” compelled to get vaccinated based on the “false narrative” that the vaccine was entirely safe, and because the State of Maharashtra prohibited the non-vaccinated from riding on railroads or entering retail spaces such as shopping malls. 

 The complaint alleges Maharashtra`s restrictions “are against the Central Government`s policy that, there cannot be any discrimination between vaccinated and unvaccinated people.” 

 Other defendants in the case include the commissioner and director-general of the Maharashtra State Police, the Indian Central Bureau of Investigation and the principal secretary of the Indian Ministry of Health and Family Welfare. 

 The complaint also brings charges against Bill Gates and Adar Poonawalla, CEO of the Serum Institute of India, the world`s largest vaccine manufacturer by number of doses produced and sold. 

 The Serum Institute produces the Covishield vaccine, as well as over half of the world`s vaccines that are administered to babies. 

 BUY TODAY: Robert F. Kennedy, Jr.`s New Book — 'The Real Anthony Fauci'

In all, Yadav is requesting 1,000 crores (10 billion rupees, or $134 million USD) in compensation, including 100 crores ($13.4 million USD) in interim compensation. 

 She is seeking lie detector and narcoanalysis tests from Gates, Poonawalla and others. 

 According to the complaint, the Indian government admitted the Covishield vaccine may have harmful, and potentially fatal, side effects, but the vaccine was administered despite this knowledge. 

 The complaint in Yadav v. Maharashtra was filed by attorneys Shivam Mehra and Siddhi Dhamnaskar of Mumbai, and appears to have first been publicized in English by the Indian Bar Association, an informal class of Indian lawyers (the Bar Council of India is the country`s official bar association). 

 Judges of the Supreme Court of India have generally adopted a pro-vaccine stance. Nevertheless, Yadav`s 265-halaman complaint stands out for the extensive sah precedent it draws upon, from Indian and common law, calling into question the legality of mandatory vaccination and other compelled medical acts. 

 The complaint also stands out for the specific allegations made against figures such as Poonawala and Gates, a figure of extensive controversy in India. 

 Extensive sah precedent casts doubt on legality of Indian state`s mandatory vaccination policy 

 One of the main court rulings referenced in the Yadav v. Maharashtra complaint is that of Registrar General, High Court of Meghalaya v. State of Meghalaya (herein referred to as Meghalaya). The central finding of the ruling, issued June 23, 2021, held that vaccination by force or deception, or through the introduction of restrictions on the non-vaccinated, is a violation of mendasar human rights and a civil and criminal wrong. 

 This judgment overturned an order in the state of Meghalaya that required vendors, taxi drivers, shopkeepers and other individuals to get vaccinated before resuming or reopening their businesses. 

 In reference to this, the court held that while vaccination was “the need of the hour,” the vaccination policy of a welfare state “can never affect a major mendasar right, i.e. the right to life, personal liberty and livelihood.” 

 Referring to Article 21 of the Indian Constitution, the court in Meghalaya addressed the right to health, arguing that when such healthcare is provided through coercive means, it encroaches upon the mendasar right to privacy. 

 The court also drew from another Indian court ruling, Justice K.S. Puttaswamy (Retd.) v. Union of India (2018), which held the mendasar right to health is violated when individuals are deprived of their right to personal choice, bodily autonomy and integrity, and the overarching right to privacy. 

 The court in Meghalaya added: 

 “[V]accination by force or being made mandatory by adopting coercive methods, vitiates the very mendasar purpose of the welfare attached to it. It impinges on the mendasar right(s) as such, especially when it affects the right to means of livelihood which makes it possible for a person to live. 

 “Compulsory administration of a vaccine without hampering one`s right to life and liberty based on informed choice and informed consent is one thing. However, if any compulsory vaccination drive is coercive by its very nature and spirit, it assumes a different proportion and character.” 

 The court in Meghalaya also referenced English common law, specifically, the case of Airedale NHS Trust v. Bland (1993), a decision which held that if an unwilling adult is compelled to receive a flu vaccination through force, this action would amount to a crime and to a civil wrong. 

 Remarking on this, the Indian court found: 

 “[T]hus, coercive element of vaccination has, since the early phases of the initiation of vaccination as a preventive measure against several diseases, have been time and again not only discouraged but also consistently ruled against by the Courts for over more than a century.” 

 The court in Meghalaya also referred to Article 19 of the Indian Constitution regarding the “freedom to practice any profession or carry on any occupation, trade or business,” and that vaccine-related restrictions were “palpably excessive.” 

 The court added: 

 “In this case, there is a clear lack of legitimacy in prohibiting freedom of carrying on any occupation, trade or business amongst a certain category or group of citizens who are otherwise entitled to do so, making the notification/order ill-conceived, arbitrary and/or a colourable exercise of power.” 

 From an administrative point of view, the court in Meghalaya also found

Rabu, 19 Januari 2022

Ramai Spanduk 'Arteria Dahlan Musuh Orang Sunda' di Bandung

 Pada Rabu (19 Januari 2022), Jalan Tamansari dekat Taman Jongbro di Kota Bandung memasang spanduk besar bertuliskan "Arteria Dahlan, musuh Sunda". Tidak diketahui siapa  yang mengibarkan bendera tersebut. 

 Perwira Juna Eddie mengaku baru melihat spanduk itu hari ini. Di sisi lain, tidak ada spanduk pada  Selasa (18.1.2022). 

 "Seperti tadi malam (dipasang)," katanya. 

 Salah seorang penduduk Timur mengaku tidak mengenal orang yang mengibarkan bendera itu. Bahkan masyarakat sekitar pun tidak tahu tentang pemasangan spanduk. "Saya tidak tahu," kata Toyo.  Pernyataan politisi PDI-P Arteria Dahlan yang menyerukan pemberhentian Ketua Pengadilan Tinggi untuk berbicara bahasa Sunda pada rapat resmi 



 telah memicu kontroversi publik. Buruh budayawan, seniman, dan anggota Sunda Community Union mengaku kecewa dengan pernyataan  DPR RI tersebut. 

 “Kami meminta PDIDPP untuk terlebih dahulu menarik Arteria Dahlan dari keanggotaan DPRRI, PAWlah. Saya tidak tahu mekanisme seperti apa yang penting kalau PDIP memikirkan masa depannya memikirkan partainya terutama di Jawa Barat dan tatar Sunda dia harus mencopot Arteria Dahlan," ujar Koordinator Koalisi Masyarakat Penutur Bahasa Sunda Cecep Burdansyah seusai rapat di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Rabu (19/1/2022). 

 Pihaknya pun meminta mahkamah kehormatan DPR RI untuk memeriksa Arteria Dahlan sekaligus menanyakan motivisasi pernyataannya. Selain itu koalisi akan mengkaji apakah pernyataan Arteria Dahlan dikategorikan fitnah dan dapat diadukan ke aparat penegak hukum. 

 "Mengkaji di bidang hukum apakah kalau misal pernyataan Arteria fitnah ternyata tidak ada Kajati berbahasa Sunda di raker, itu fitnah, itu menganggu menimbulkan keonaran di masyarakat. Sebetulnya bisa dikenakan pasal 14 dan 15 tentang keonaran kami kaji dulu kalau bisa diadukan maka diadukan ke Polda Metro Jaya," katanya. 

 Cesep menambahkan, pihaknya kecewa dengan kesaksian Arteria Dhahran karena orang Sunda menilai mereka mengerikan dan buruk di masyarakat. Dengan mengacu pada UUD, bahasa daerah dilindungi dan perlu dikembangkan. 

 "Permintaan kami kecewa dengan pernyataan Arteria Dahlan, anggota Komite III DPRRI bahwa bahasa Sunda adalah bahasa yang menakutkan. 

 Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana, menggunakan bahasa Sunda. Dia meminta Alteria Darlan untuk menghormati perbedaan antara kedua.“Pahami bahwa kita memiliki bahasa daerah dan itu biasa digunakan  di daerah kita,” ujarnya. 

 Menurutnya, wajar jika masyarakat  Bandung dan Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Ia pun menanyakan kepada Arteria Dahlan mengapa ia mempertanyakan hal tersebut. 

 "Di desa kami di Bandung, wajar jika menggunakan bahasa  Sunda asli kami untuk berbagai kegiatan. Menurut saya  wajar jika ada masalah dengan nasihat bergengsi dari Dewan Arteri." .. Ditegaskannya, penggunaan bahasa daerah merupakan upaya untuk melindungi budaya Sunda. 

 Ketua DPW Partai NasDem Jabar Saan Mustopa menyayangkan kesaksian Arteria Dahlan. "Ya, menurut saya, itu yang terbaik, jadi Pak Arteria perlu berbicara kepada masyarakat umum. Saya melakukan kesalahan. Saya minta maaf, tapi itu jelas tidak berarti apa-apa," kata Sarn. 

 Wakil Ketua Komite II DPR meninjau kembali pernyataan Arteria bahwa salah satu Kajati yang berbahasa Sunda dalam rapat harus diberhentikan dengan agak berlebihan. Ketika dia berkata begitu, dia berspekulasi bahwa Arteria tidak terkonsentrasi. 

 "Menurut pendapat saya, itu menyebabkan ketidaknyamanan, jadi itu tidak boleh terjadi. Saya harap ini tidak bertambah besar. Dan jika Pak Arteria melakukan kesalahan, bicara saja,” ujarnya. 

 Ia menekankan bahwa PNS yang berbahasa Sunda tidak boleh diberhentikan. Menurutnya, itu adalah ucapan sukarela ketika dia bertemu  seseorang di daerah yang sama. (Republik)

Rabu, 01 Desember 2021

Jengkel Selalu Minta Jatah Berhubungan Intim, Istri Tega B4cok Suami dengan K4pak Berkali-kali

   

Selalu Minta Jatah Berhubungan, Istri yang Merasa Kelelahan dan Stres usai Melahirkan Anak Ketiga Ini Nekat Bacok Suami Sendiri dengan Kapak.

Beberapa waktu lalu, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada sebuah tindak kriminal kembali terjadi. Seorang suami bernama Maman warga Sukabumi, Jawa Barat bernasib tragis setelah dibacok oleh istrinya sendiri.

Istri Maman berinisial AM (43) yang diduga mengalami depresi membacoknya dengan sebilah kapak. Akibat luka bacokan tersebut, pria berusia 34 tahun ini harus dilarikan ke RSUD Sekarwangi, Cibadak untuk mendapatkan perawatan.

"Keterangan sementara, istrinya ini baru melahirkan dua bulan dan belum mengikuti keluarga berencana,
tapi suaminya itu terus merayu dan minta dilayani, dan akhirnya dilakukan (pembacokan)," ungkap Kapolsek Cikidang AKP Sunarto, Senin pagi, melansir dari Kompas.com. Sunarto mengungkapkan ternyata kekerasan yang dilakukan AM terhadap suaminya tak hanya sekali ini saja.

Namun entah kenapa, korban justru menutupinya dari pihak keluarga dan mengaku lukanya tersebut diperoleh dari serangan orang lain.

Jumat, 26 November 2021

Subhanallah, Inilah Fenomena Alam Bukti Kebesaran Allah

  

Alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Sehingga tidak jarang, Allah SWT memperlihatkan kebesaran dan keagungannya dari fenomena-fenomena alam yang terjadi.
Hanya saja, terkadang kita sebagai mahluk ciptaan-Nya kurang bisa memahami akan kebesaran dan keagungan Allah SWT.
Berikut ini beberapa fenomena alam, sebagai bukti keagungan dan kebesaran Allah SWT :
Fenomenal alam mebentuk lafadz Allah ini terjadi pada saat Gunung Kelud meletus. Terlihat secara jelas bagaimana pijar lava merah yang dimuntahkan Gunung Kelud membentuk lafadz Allah SWT.
Fenomena alam selanjutnya masih terjadi saat Gunung Kelud meletus. Dimana gabungan abu vulkanik serta kilat yang menyambar di sekitarnya menggambarkan kepala hewan bertanduk.
Bukti kebesaran Allah SWT batu tempat duduk Nabi Muhammad SAW Isra Mi’raj sampai kini masih tetap melayang di udara. Pada saat Nabi Muhammad mau Mi’raj batu tsb ikut, tetapi Nabi SAW menghentakan kakinya pada batu tsb, maksudnya agar batu tsb tak usah ikut. Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tentang batu gantung tsb yang berada dalam masjid Umar [Dome of the Rock] di Lingkungan Masjidil AQSHA di Yarusalem.
Ustaz Yusuf Mansur Menangis saat Transfusi Darah, Istri: Tangannya sudah pada biru

Ustaz Yusuf Mansur Menangis saat Transfusi Darah, Istri: Tangannya sudah pada biru

 


 Kabar tak mengenakkan baru-baru ini datang dari pendakwah kondang H. Jam’an Nukhatib Mansur atau yang dikenal sebagai Ustaz Yusuf Mansur.

Pendakwah berdarah Betawi ini sudah tiga hari mendapatkan perawatan secara intens di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Hal itu disebabkan penurunan hemoglobin atau HB. Kadar HB Ustaz Yusuf Mansur diketahui hanya 5 gram per desiliter, melansir TribunWow.com.

Ini jelas kadar yang sangat membahayakan, karena patokan untuk pria tidak kurang dari 13,5 gram per desiliter.

“HB saya alhamdulilah ‘masih’ ada 5. Rendah sangat, tapi masih hidup,” tulisnya dalam unggahan video di Instagram, Rabu (21/7).

Akibat HB yang sangat rendah, Ustaz Yusuf Mansur pun diharuskan melakukan transfusi darah.

Momen transfusi darah ini pun sempat diabadikan oleh istri tercinta, Siti Maemunah.

“Ini papa lagi transfusi darah yang pertama. Hari ini dua kantong, doain biar lancar,” ucap Siti Maemunah.

Di momen ini pula, terlihat tangan sang Ustaz sudah pada biru dan terekam pula Ustaz Yusuf Mansur sedang menangis.

Dia mengelap air mata yang turun sembari sedikit terisak.

Setelahnya, dia pun menjelaskan alasan dibalik dirinya menangis.

“Terharu, banyak yang doain papa. Semua sayang papa,” ucapnya kepada istri.

Namun lucunya, Siti Maemunah justru menghibur dengan cara mengejek sang suami.

“Itu nangis atau ketawa,” canda Siti pada suaminya yang menangis menutupi matanya.

Kocaknya lagi, ejekan dari istrinya kembali dibalas dengan candaan yang tak kalah mengundang gelak tawa.

“Nangis, papa lapar,” kelakar sang Ustaz.

“Pengin bakso Malang, sama sate, sedih,” lanjutnya yang sukses membuat istri terpingkal.

“Jadi nangisnya karena lapar dong, kirain karena terharu didoain anak-anak,” tawa Siti Maemunah.